SOAL ANALISIS CERPEN

25 Questions  I  By Agsuyoto
SOAL ANALISIS CERPEN
Pokok Uji      : Unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik prosa cerita Penulis soal : Agustinus Suyoto, S.Pd              ;           &nbs p;  Pengajar Sastra Indonesia di SMA Stella Duce 1 Yogyakarta

  
Changes are done, please start the quiz.


Question Excerpt

Removing question excerpt is a premium feature

Upgrade and get a lot more done!
1.  Alangkah bagusnya hari sepagi ini. Ke gedung akuarium, kawan. Marilah kita ke sana, melihat ikan yang sedang berenang-renang di dalam air yang jernih. Ke sebelah kanan, kawan, sebab sebetah kiri penuh sesak teman-teman kita yang sedang melihat pula. Lihat, lepu ayam ikan ganjil. Sirip dan ekornya tumbuh melebihi panjangnya dari ikan biasa, sehingga merupakan ayam kalkun. Warnanya yang kemerah-merahan bercampur putih itu, sepadan benar dengan lenggoknya perlahan-lahan di air tenang. Semua teman-temannya tidak dipedulikannya. Dengan sombong katanya, ”Adakah lagi yang melebihi kegagahan dan kebagusanku? Akulah raja keindahan di air ini. Lihatlah, mereka lari, malu seraya menyingkirkan diri.  (Dari Tinjauan Dunia Sang karya Maria Amin) Kekhasan yang terdapat pada penggalan cerpen yang menunjukkan bahwa cerpen tersebut merupakan cerpen pada masa Jepang adalah ....
A.
B.
C.
D.
E.
2.  Ketika berpikir tentang “Keluarga kami yang berbahagia” Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan.Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran di atas kasur yang spreinya terseret entah ke mana.   Unsur intrinsik yang paling dominan dalam penggalan cerpen di atas adalah …
A.
B.
C.
D.
E.
3.  Saya malu memakai pakaian demikian, Khadijah, tidak cocok dengan diriku, aku tak biasa.” “Itulah yang akan dibiasakan.” “Pakaian begini tak diadatkan di negeri kita.” “Dahulu yang tidak, kini inilah pakaian yang lazim.” “Saya tidak mau membuka rambut.” “Membuka rambut apakah salahnya? Bukanlah panas kalau selalu ditutup saja?” “Sebetulnya saya tidak mempunyai pakaian yang demikian.” Sahut Hayati pula. “Itu gampang pakailah pakaianku, itu tersedia dalam lemari berapa saja kau mau.” Setelah bertengkar-tengkar yang hampir saja menyebabkan Hayati tak jadi pergi, tetapi mengingat hendak bertemu dengan Zainuddin nanti, dipakainya juga pakaian itu. (Tenggelamnya Kapal Va Der Wijck, HAMKA)   Sudut pandang yang dipakai dalam penggalan novel di atas adalah …
A.
B.
C.
D.
E.
4.  ”Raden, ampunilah junjungan kami supaya dapat pulih kembali seperti sedia kala. Okh Raden, hanya padukalah satu-satunya harapan dan junjungan kami, Raden!” ”Tetap molek dan indah sekali, ” gumam Raden Bandungbandawasa setelah memandangi arca Rara Jonggrang. ” Lebih molek dan jelita jika hidup kembali, Raden. Oleh karena itu ampunilah dia,” bujuk emban tua. ”Barangkali kalian dapat menghidupkan kembali dengan membakar jerami kering dan menabuh lesung semalam suntuk,” jawab Raden Bandungbandawasa seraya melangkah pergi, pulang ke Pengging dengan hati yang riang dan ringan karena kesadaran bahwa kecantikan yang berlumur pengkhianatan tak perlu didambakan. Pesan moral yang dapat dipetik dari penggalan cerita di atas adalah ....
A.
B.
C.
D.
E.
5.  Di tengah alunan orkes Madun yang terpancar dari radio, kami memulai percakapan penting itu. Kami tahu saatnya telah tiba. Kami tidak bisa berbohong lagi, kalau tidak mau gila. Sudah terlalu lama kejadiannya kami biarkan berlangsung. Menggila dan memperbudak kami. Dengan kata-kata yang sederhana semuanya harus diselesaikan. “Sudah kaupikirkan bahwa perkawinan ini berarti perubahan, perubahan pada diri kita?” tanyanya padaku. “Aku mengerti dan aku sudah siap.” “Seandainya kelak ada yang engkau sesalkan, apa yang akan kau lakukan?” “Aku tak akan menyesal, sayang. Walaupun yang kau lepaskan ini bernama kebebasan, kemerdekaan yang dipuja oleh para seniman, kaum cendikiawan, kaum muda dan …”   Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan novel tersebut adalah sudut pandang .…
A.
B.
C.
D.
E.
6.  (1)Airmata malah deras meleleh di pipi Myrna. (2)”Aku bukan batu karang yang teguh, Mak. Aku akan mengecewakan Emak, Abah, terutama Kang Win.” (3)Ibunya memeluk Myrna.” Jangan mengaku apa yang tidak patut kamu katakan. Kira-kira Emak mulai memahami.” (4)”Aku cuma berani bilang: aku batu karang yang rapuh. (5)Gelombang pasang dengan gampang menerpa dan menyapu aku ke tepian. (6)Boleh jadi sebentar lagi aku malah akan tertepikan dan lenyap dalam sejarahku.” (7)”Tidak Myrna,” kata ibunya dengan lembut.”Kalau gambaran yang kamu sebutkan itu memang betul, mungkin saja Emak kecewa. (8)Tapi Emak tahu, kamu memang bukan batu karang. (9)Kenapa harus menyamakan diri dengan batu karang? (10)Batu karang tidak bernyawa, tidak berjiwa, tidak ber-roh.(11) Kamu manusia dengan tubuh, roh, dan jiwa. (12)Kalau tubuhnya bersalah, jangan kamu tambah dengan merusak jjiwamu. (13)Berdiri menyongsong masa depan. Masalahmu yang sebenarnya bukan kemarin.” (14)”Maksudku, bagaimana caranya aku mengatakan kepada Kang Win? Aku tidak mau kalau sampai dia mengatakan aku menipunya.” (Kerudung Merah Kirmizi, Remy Sylado)   Kalimat yang memuat informasi suasana batin Myrna  adalah ....
A.
B.
C.
D.
E.
7.  Anakku membandingkan tempat tinggal kami yang sekarang dengan Purwodari. “Di sana lebih banyak pohon buah ya, Bu,” kata sulungku. “Karena kebanyakan rumah di sana punya pekarangan” sahutku. “Di ruah kita malahan ada tiga malahan ada tiga macam : golek, kalijiwo, lalu apa Bu, satunya lagi?” “Gadung.”Jawabku, dan kuteruskan.”Di tempat kakek lebih banyak lagi.Hampir semua jenis mangga ada.” “Karena tempat kakek lebih luas dari rumah kita di sana!” anak sulungku menyatakan isi pikirannya. “…. Sekarang, di Semarang inilah rumah kita!”   Kalimat yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang dari cerita di atas adalah ….
A.
B.
C.
D.
E.
8.  Ali                         : Tadi aku dengar suara Hustam, di mana dia sekarang?      Samsudin         : Entahlah, tadi ia sudah pamit pulang.      Ali                    : Apa keperluan penyair gila itu ke sini?      Samsudin         : Kayak kamu tak tahu saja, apa lagi kalau bukan masalah ekonomi.      Ali                    : Yah, itu mah sudah biasa!      Samsudin           : Oh, ya apa kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu? Jika sudah, rekan-rekan yang lain diberi tahu  bahwa  kita akan mengadakan rapat persiapan ulang tahun Hari Bahasa dan Sastra. Ali                         : Kapan? Di mana?     Samsudin          : ... Kalimat yang tepat untuk melengkapi dialog yang menggambarkan latar tempat pada penggalan naskah drama tersebut adalah ...
A.
B.
C.
D.
E.
9.  (1)Airmata malah deras meleleh di pipi Myrna. (2)”Aku bukan batu karang yang teguh, Mak. Aku akan mengecewakan Emak, Abah, terutama Kang Win.” (3)Ibunya memeluk Myrna.” Jangan mengaku apa yang tidak patut kamu katakan. Kira-kira Emak mulai memahami.” (4)”Aku cuma berani bilang: aku batu karang yang rapuh. (5)Gelombang pasang dengan gampang menerpa dan menyapu aku ke tepian. (6)Boleh jadi sebentar lagi aku malah akan tertepikan dan lenyap dalam sejarahku.” (7)”Tidak Myrna,” kata ibunya dengan lembut.”Kalau gambaran yang kamu sebutkan itu memang betul, mungkin saja Emak kecewa. (8)Tapi Emak tahu, kamu memang bukan batu karang. (9)Kenapa harus menyamakan diri dengan batu karang? (10)Batu karang tidak bernyawa, tidak berjiwa, tidak ber-roh.(11) Kamu manusia dengan tubuh, roh, dan jiwa. (12)Kalau tubuhnya bersalah, jangan kamu tambah dengan merusak jjiwamu. (13)Berdiri menyongsong masa depan. Masalahmu yang sebenarnya bukan kemarin.” (14)”Maksudku, bagaimana caranya aku mengatakan kepada Kang Win? Aku tidak mau kalau sampai dia mengatakan aku menipunya.” (Kerudung Merah Kirmizi, Remy Sylado)   Kalimat yang memuat majas metafora adalah kalimat nomor ....
A.
B.
C.
D.
E.
10.  “Pulang ke mana Mas? Saya antarkan.” Tiba-tiba suara itu terdengar sangat dekat di telingaku sewaktu aku melangkah di halaman stasiun. Aku pura-pura tak peduli. “ Pulang ke mana sih?” suara tukang becak itu berlanjut. Pasti ditujukan padaku. Terasa tangannya menggamit tasku. “Dekat kok,” jawabnya sekenanya. “ Ya, mari saya antarkan.” Aku menoleh padanya. Sialan, ... dan akhirnya berhasil memaksaku naik becaknya. Yang pertama, setelah tiba di rumah dia meminta tambahan ongkos meskipun yang kuberikan sudah lebih dari cukup. (Sekali-sekali Mas, katanya). Yang terakhir waktu aku sedang menawar becak lain dia sengaja, dengan tubuh kerempengnya, menyorongkan becaknya. Kesudahannya dia minta tambahan ongkos dengan gaya merengek.   Klausa yang sesuai untuk mengisi bagian rumpang penggalan cerpen di atas adalah ....
A.
B.
C.
D.
E.
11.  (1) Pujo                :  Ling, Apakah kita jadi bertemu Pak Lurah? (2) Maling            : Untuk apa? Dia pasti sudah bertemu Kolonel Jono. (3) Pujo                : Maksudmu? Pak Lurah mau menjadikan kita tumbal! (4) Maling            : Begitulah. Bukankah dia maju mencalonkan diri sebagai anggota DPRD! (5) Suminten      : Maksudnya apa, Kang! (6) Pujo                : Jadi kesepakatan yang kita buat di hutan itu bohong belaka! (7) Suminten        : Kesepakatan? Kesepakatan apa? (8) Maling            : Tentang kawan-kawan kita yang dituduh mencuri kayu hutan! Pokok persoalan yang dibicarakan oleh tokoh-tokoh dalam penggalan cerita di atas adalah ....
A.
B.
C.
D.
E.
12.  ”Marno, tengadahkan kedua tanganmu agar air yang aku guyurkan tertampung di kedua tanganmu, kemudian usapkan di perut istrimu.” Perintah dukun bayi sebelum mengguyurkan air di atas kepala suamiku sebagai guyuran terakhir. Sambil mengusapkan air di perutku, aku melihat mulutnya melafalkan doa dengan lirih, sangat lirih, hingga aku yang duduk rapat dengannya tidak mendengar apa yang diucapkannya. Bersamaan dengan berakhirnya usapan di perutku, aku melihat air mata hampir menitik jatuh di mata suamiku. Sebentuk haruan dan kebahagiaan yang dirasakannya tergambar jelas di sudut matanya yang basah. ”Sekarang belahlah kelapa gading di depanmu, Marno.” Belum selesai dukun  bayi mengucapkan perintahnya, suamiku sudah mengayunkan parang yang diambil di sisi kelapa.  ”Braak.” kelapa itu terbelah tepat di tengah, suamiku tersenyum, dari mulutnya keluar kata, ”Laki-laki”. Kembali aku melihat binar bahagia terpancar dari air mata yang mengambang hampir jatuh.  (Jodoh, Dian Aksanti) Mitos yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah ....
A.
B.
C.
D.
E.
13.  (1)”Tapi Kijang kita kan ada di garasi dia, kenapa tidak pakai mobil kita saja?” (2) ”Itu Kijang tua, Mas. Kalau dilihat dengan kacamata prestise, tentu saja Kijang tua kalah kelas dari Avansa yang berusia muda. Itu katamu sebelum kita memutuskan memakai mobil Kristina, kan?” (3) ” Tapi waktu itu ...” (4) Kali ini Widhi tak bisa menyembunyikan kekalutannya. (5) Butiran keringat dingin memenuhi dahinya. (6) Memang, sudah dua kali mudik lebaran Kristina mengizinkan kami meminjam Avanzanya. Sungguh tak disangka kali ini dia memintanya kembali sebelum batas waktu yang disepakati. (7) ”Baiklah, kita pulang besok pagi,” Widhi bangkit.”Suruh anak-anak berkemas, Lis.” (8) ”Tapi besok masih lebaran, Mas. Apa nanti kata orang tuamu?” (9) ”Aku akan cari alasan yang tepat. Berilah pengertian pada Ares dan Iva. Aku yakin mereka anak-anak yang baik, yang selalu siap memahami kondisi orang tuanya.” (10) Mudah-mudahan begitu, batinku tak yakin. (11) Secawan kebahagiaan yang tengah direguk dengan nikmat oleh anak-anakku, akan kurebut dengan paksa dan mendadak. (12) Benarkah mereka siap memahaminya, ikhlas melepasnya? Amanat dalam kutipan tersebut adalah ....
A.
B.
C.
D.
E.
14.  ”Raden, ampunilah junjungan kami supaya dapat pulih kembali seperti sedia kala. Okh Raden, hanya padukalah satu-satunya harapan dan junjungan kami, Raden!” ”Tetap molek dan indah sekali, ” gumam Raden Bandungbandawasa setelah memandangi arca Rara Jonggrang. ” Lebih molek dan jelita jika hidup kembali, Raden. Oleh karena itu ampunilah dia,” bujuk emban tua. ”Barangkali kalian dapat menghidupkan kembali dengan membakar jerami kering dan menabuh lesung semalam suntuk,” jawab Raden Bandungbandawasa seraya melangkah pergi, pulang ke Pengging dengan hati yang riang dan ringan karena kesadaran bahwa kecantikan yang berlumur pengkhianatan tak perlu didambakan.          Pernyataan yang bernada menyindir perilaku curang dalam cerita tersebut adalah ...
A.
B.
C.
D.
E.
15.  Ayu      : Mas Andre, maafkan aku. Aku telah mengkhianati cinta kita. Aku harus berbesar hati demi membayar utang keluargaku. Andre   : Jadi kamu mau kawin sama bapakku demi membayar hutang? Ayu      : Tolonglah Mas, izinkan aku berbakti sama keluargaku. Aku rela kok Mas! Andre   : Aku mengerti kesulitanmu, tapi kenapa cinta kita tidak pernah bersatu. Juragan      : Ayu...ayo keluar tamu sudah menunggu...Kamu juga Ndre jangan lama-lama sama ibumu... Ayu      : Ya sebentar..... (mereka berdua keluar dari kamar) Juragan            : Para hadirin semua, (diam beberapa saat, menatap Ayu dan Andre sebentar) pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin mengumumkan pernikahan Ayu dengan anak saya Andre. Pernyataan berikut yang sesuai dengan isi penggalan naskah drama di atas adalah ....
A.
B.
C.
D.
E.
16.  (1) Telepon berdering dari ruang tamu. (2) Segera Renata berlari kecil dari kamar tidurnya. (3) Tanpa sengaja ia menyenggol vas bunga di samping telepon, jatuh berkeping-keping. (4) Renata tidak jadi mengangkat gagang telepon. Renata      : Halo,...selamat siang! ((5)sedikit menarik kabel  telepon, jongkok sambil memunguti kepingan vas bunga) Penelepon : Selamat siang. Ini benar rumah keluarga Sudibyo? Renata      : Iya, benar. Maaf, Anda siapa? ((6)sambil berjalan menuju dapur, mengambil sapu) Penelepon : Mm....kami dari pihak rumah sakit! Renata      : Rumah sakit? Penelepon :  .... Renata      : Kecelakaan? Siapa namanya, Pak? Penelepon : Saudara Angga! Renata   : (sambil berteriak-teriak) Bapak...Ibu...Mas Angga kecelakaan! Penelepon : Mohon Anda segera ke rumah sakit! Renata      : Oh. Iya. Saya segera ke sana. Terima kasih. ((7) meletakkan gagang telepon dengan sedikit lemas) Dialog yang sesuai untuk melengkapi bagian rumpang dari penggalan drama di atas adalah ....
A.
B.
C.
D.
E.
17.  “ ….” “ Tidak,” jawab Fola. Terkejut dengan kecepatan jawabannya,”Murid-muridku sudah pulang semua.” “Kau akan pulang?” “Tentu saja.” “ Di manakah rumahmu?” Fola terdiam sejenak mendengar pertanyaan Henrietta. Dia tidak perlu memberitahu di mana rumahnya kepada perempuan itu, namun sebaris alamat terucap dari mulut Fola. “Mari pulang bersamaku. Kebetulan kantorku searah dengan tempat tinggalmu.” Henrietta  mendongak.”Kebetulan hujan juga telah berhenti.”                           Kalimat dialog yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang dari teks di atas adalah ….
A.
B.
C.
D.
E.
18.  Setahun setelah perkawinannya dengan Suparli, Sripah melahirkan Supeno, bocah laki-laki dengan muka bulat dan rambut ikal seperti bapaknya. Dua tahun kemudian disusul oleh Sinik. Keluarga ini memang masih sama-sama berusia muda. Suryanto, anak ketiga lahir setelah anak kedua berusia dua tahun tujuh bulan. Delapan tahun dengan tiga orang anak : lelaki-perempuan-lelaki. Sripah dan Suparli juga berpikir, anak perempuannya diapit oleh sua laki-laki. Itu namanya sendang kapit pancuran. Dalam kepercayaan Jawa, dia harus diruwat atau diupacarai dengan ditanggapkan wayang kulit. Kalau tidak, berarti Sripah harus melahirkan anak lagi. Hidup tentua akan bertambah berat. Kalimat yang mendukung adanya nilai mitos terdapat pada ...
A.
B.
C.
D.
E.
19.  Punden di desa kami dijadikan sentral kegiatan ritual para orang tua. Di tempat itu para orangtua kami mempertemukan dua mempelai pengantin, setelah diarak keliling desa. Di situ pengantin laki-laki dan perempuan saling melempar sirih, setelah dukun rias membakar kemenyan, sebagai cara minta restu pada Dayang penunggu desa. Di punden itu juga para orangtua kami mengadakan kenduri, mendatangkan tayuban setiap sedekah bumi setahun sekali.   Unsur budaya yang sampai sekarang masih ditemukan dalam acara  perkawinan adalah ...
A.
B.
C.
D.
E.
20.  (1) Pujo                :  Ling, Apakah kita jadi bertemu Pak Lurah? (2) Maling            : Untuk apa? Dia pasti sudah bertemu Kolonel Jono. (3) Pujo                : Maksudmu? Pak Lurah mau menjadikan kita tumbal! (4) Maling            : Begitulah. Bukankah dia maju mencalonkan diri sebagai anggota DPRD! (5) Suminten      : Maksudnya apa, Kang! (6) Pujo               : Jadi kesepakatan yang kita buat di hutan itu bohong belaka! (7) Suminten        : Kesepakatan? Kesepakatan apa? (8) Maling            : Tentang kawan-kawan kita yang dituduh mencuri kayu hutan! Kalimat dialog yang berisi informasi latar adalah ....
A.
B.
C.
D.
E.
21. 
  1. Perhatikan penggalan cerpen berikut!
Dengan suaminya yang ramah, hampir setiap sore, ada saja yang kami percakapkan. Banyak hal yang tampaknya ingin ia ketahui tentang saya. Tapi saya lebih suka, entah kenapa, menanyakan banyak hal tentang Mak Suma. “Jadi …ia hidup sendiri. Telah berapa lama?” “Sejak suaminya meninggal, Guru. Delapan tahun yang lalu.” “Tidak adakah seseorang di desa ini yang cukup dekat dengannya?” ”Semua orang ingin dekat. Ia saja yang rupanya mau jauh.” Mau jauh? Kembali saya ingat soal itu : daya tolak. Bibirnya yang melengkung. Alisnya yang terangkat tapi dahinya tidak berlipat. Matanya. Matanya. Ada apakah dengan matanya? Kenapa saya tak suka. Sungguh tolol. Perempuan itu telah menyita perhatian saya, padahal saya tak menginginkannya. Demikian menyitanya sampai-sampai terbawa dalam surat saya ke Mira, pacar saya. Tulis saya pada salah satu alinea : Namanya Mak Suma, Mira. Saya tak suka ia tapi pikiran saya selalu tertuju kepadanya. Ia punya daya tolah tapi tidakkah itu pula daya tariknya?   Cara pengarang menggambarkan watak Mak Suma adalah ....
A.
B.
C.
D.
E.
22.  (1)”Selalu,” Imam Mathori mengusap muka, menandaskan,”Adzanlah sekali lagi, Ali! Waktu sudah hampir habis...” (2)Menatap jam. Merapikan serban dan kopiah. Batuk. (3) Melengking. Suara Ali memanggil, suara adzan menembus atap menyayat dan berirama. (4) Kembali lantang. Menuju lembah, sawah, menyeruak rumah-rumah, jendela-jendela: menyapa orang-orang yang tetap sibuk bekerja. (5) Anak-anak ribut-riuh berkeliaran tanpa dosa di pematang. (6) Perempuan-perempuan bebal menenteng rantang suami, ayah, buyut, saudara. (7) Orang hidup harus bekerja. Harus makan.       Unsur agama tergambar pada kalimat ...
A.
B.
C.
D.
E.
23.  (1) Telepon berdering dari ruang tamu. (2) Segera Renata berlari kecil dari kamar tidurnya. (3) Tanpa sengaja ia menyenggol vas bunga di samping telepon, jatuh berkeping-keping. (4) Renata tidak jadi mengangkat gagang telepon. Renata      : Halo,...selamat siang! ((5)sedikit menarik kabel  telepon, jongkok sambil memunguti kepingan vas bunga) Penelepon : Selamat siang. Ini benar rumah keluarga Sudibyo? Renata      : Iya, benar. Maaf, Anda siapa? ((6)sambil berjalan menuju dapur, mengambil sapu) Penelepon : Mm....kami dari pihak rumah sakit! Renata      : Rumah sakit? Penelepon :  .... Renata      : Kecelakaan? Siapa namanya, Pak? Penelepon : Saudara Angga! Renata   : (sambil berteriak-teriak) Bapak...Ibu...Mas Angga kecelakaan! Penelepon : Mohon Anda segera ke rumah sakit! Renata      : Oh. Iya. Saya segera ke sana. Terima kasih. ((7) meletakkan gagang telepon dengan sedikit lemas) Deskripsi akting yang tidak logis dalam penggalan naskah drama di atas adalah nomor ....
A.
B.
C.
D.
E.
24.  (1)”Tapi Kijang kita kan ada di garasi dia, kenapa tidak pakai mobil kita saja?” (2) ”Itu Kijang tua, Mas. Kalau dilihat dengan kacamata prestise, tentu saja Kijang tua kalah kelas dari Avansa yang berusia muda. Itu katamu sebelum kita memutuskan memakai mobil Kristina, kan?” (3) ” Tapi waktu itu ...” (4) Kali ini Widhi tak bisa menyembunyikan kekalutannya. (5) Butiran keringat dingin memenuhi dahinya. (6) Memang, sudah dua kali mudik lebaran Kristina mengizinkan kami meminjam Avanzanya. Sungguh tak disangka kali ini dia memintanya kembali sebelum batas waktu yang disepakati. (7) ”Baiklah, kita pulang besok pagi,” Widhi bangkit.”Suruh anak-anak berkemas, Lis.” (8) ”Tapi besok masih lebaran, Mas. Apa nanti kata orang tuamu?” (9) ”Aku akan cari alasan yang tepat. Berilah pengertian pada Ares dan Iva. Aku yakin mereka anak-anak yang baik, yang selalu siap memahami kondisi orang tuanya.” (10) Mudah-mudahan begitu, batinku tak yakin. (11) Secawan kebahagiaan yang tengah direguk dengan nikmat oleh anak-anakku, akan kurebut dengan paksa dan mendadak. (12) Benarkah mereka siap memahaminya, ikhlas melepasnya? Kalimat bermajas metonimia terdapat pada kalimat nomor ....
A.
B.
C.
D.
E.
25.  Tiba-tiba aku melihat Bapak berlinangan air mata. Aku kaget luar biasa. Tapi, ia tidak berkata sepatah kata pun. Ia tidak menatapku, tapi aku merasakan hatinya sedang menatapku tajam. Aku meraih tangan Ibu, menciumnya dan sungkem pada ibuku. ”Mohon doanya ya, Bu.” Ibu terisak. Aku juga melakukannya pada Bapak. Kali ini aku yang terisak. Karena ketika memeluknya, aku merasakan tubuh Bapak yang sudah mulai tua dan ringkih. Bapak kurus sekali, lebih kurus dari yang aku kira. Bahunya keras, ia seperti tak pernah mengistirahatkan bahunya untuk menyandang beban hidupnya yang berat. Bapak pasti juga punya impian seperti aku.   Amanat yang tersirat dalam penggalan novel tersebut adalah ....
A.
B.
C.
D.
E.
Back to top


to post comments.

Removing ad is a premium feature

Upgrade and get a lot more done!
Take Another Quiz